Dege duduk di sebuah kursi kayu di salah satu sudut ruangan studio. Studionya tampak berantakan dengan buku-buku menumpuk di salah satu meja, dan barang-barang terletak tak beraturan. Aku bisa mencium bau cat dari botol-botol akrilik tertata di keranjang dekat dengan sebuah kanvas besar yang bersender di tembok.

Dege lahir dengan nama Dewa Gede Hartawan, di Tampaksiring, Gianyar, Bali. Dia besar di lingkungan pedesaan, tentram, di antara area persawahan.

“Sekarang lagi sibuk ngerjain beberapa project streetwear dari Russia, dan sibuk main game.” Aku bertanya padanya tentang kesibukannya saat ini.
“Aku mulai tertarik di dunia ilustrasi sejak TK. Aku suka banget waktu SD baca komik dan nonton anime seperti Naruto, Dragon Ball, One Piece, Tsubasa, dll.” Dia melanjutkan ceritanya sambil membuat kopi. 
Dia menambahkan, ketika sedang membaca manga atau menonton anime itu, dia selalu mengambil buku PR-nya lalu menggoreskan tokoh kartun dan anime yang dia tonton di buku itu.

“Banyak pengaruh lingkungan yang mempengaruhiku dalam berkarya sampai saat ini sebenernya, seperti di desaku yang banyak pengerajin dan seniman lokal, atau yang paling dekat adalah kakakku sendiri yang juga seorang ilustrator, Dw Gede Raka Jana (@rakajana),” ujarnya kemudian, menuturkan hal-hal yang menginspirasinya dalam berkarya.

“Ini kopi untukmu, jika kurang gulanya ambil sendiri ya” Dege menyodorkanku secangkir kopi hangat, baunya menyeringai nikmat.
“Ah, terima kasih” jawabku.
“Karya-karyamu detail, yang ini pakai drawing pen?,” tanyaku sambil menunjukan satu ilustrasi di akun instagram-nya.

“Aku memang suka membuat gambar detail karena aku bisa tenggelam ke dalam kedetailan yang kubuat.”
“Tenggelam ke dalam imajinasi dan buatku itu meditasi.”

“Apakah media pena itu, media yang paling nyaman saat ini?,” tanyaku kemudian.
“Aku sesekali gambar di media watercolor, tapi memang lebih suka gambar pakai drawing pen atau pensil”
“Mungkin karena gambarku yang kebanyakan  warna hitam kelam, dan buatku pen atau pensil itu yang paling cocok untuk membuat gambar yang detail.”

Kemudian mataku tertuju pada sebuah ilustrasi yang tergeletak di sebuah meja. Seorang perempuan dengan mahkota memegang sebatang bunga, di belakangnya tampak sebuah gunung yang sedang meletus dan di bawahnya terdapat ombak besar. Aku jadi ingat sosok legenda mitos jawa, Nyi Roro Kidul.

“Itu Gunung Agung” tiba-tiba Dege bercerita.
“Ada 3 hal yang ingin kusampaikan lewat karya ini.”
“Pertama gunung meletus ini.”
“Banyak pemuka agama hindu di Bali yang memberi tahu bahwa banyak pendaki yang datang ke Gunung Agung tidak mengikuti peraturan.”
“Seperti larangan mendaki jika si pendaki sedang datang bulan, namun mereka itu tetap bersikukuh untuk mendaki.”
“Sering kali mereka yang malah menjatuhkan “leteh” dan mengotori tempat sakral. Kepercayaan Hindu di Bali dari zaman lampau, gunung itu adalah tempat sakral”
“Dan juga banyak pendaki yang tidak menjaga alam seperti membuang sampah sembarangan.”

“Lalu, ombak besar.”
“Di Bali sedang mengalami bencana ombak besar, yang cukup berbahaya.”
“Beberapa pura di Bali hancur terkena ombak tersebut. Padahal kan Bali terkenal akan wisata ombak.”
“Selain itu Bali saat ini juga terkenal karena krisis sampah plastik di dalam lautan. Banyak media-media luar yang meliput tentang hal ini.”

“Dan terakhir tentang kekeringan.”
“Dari 400 sekian sungai yang ada di Bali, 260-nya sedang mengalami kekeringan.”
Tourism in Bali is killing people.”
“Hal ini tidak lain karena kurangnya kesadaran orang-orang akan pentingnya konservasi.”

“Dari beberapa bencana ini kita sebagai orang Bali mengetahui jika alam saat ini seakan-akan sedang marah akan kerakusan dan ketidakpedulian kita kepada ibu pertiwi.”
“Namun di balik itu semua ibu pertiwi selalu memberikan perlindungan dan berkah terhadap alam di Bali.”

Kopi tinggal setengah, aku mendengar lantun suara nada dari besi-besi kecil yang saling bertalu karena milir angin.
-2018

Dewa Gede Hartawan
@deggeha

Facebook Comments