Bus Sinar Jaya jurusan Purwokerto merayap di tengah kemacetan Pasar Minggu. Aku duduk di bangku bagian tengah bus, di sebelahku duduk seorang laki-laki, membolak-balikkan lembar-lembar halaman buku kecil di tangannya.

“Menulis puisi, Ben?” tanyaku

“Iya, Des. Untuk bukuku yang kedua”

“Oh iya, apa rasanya setelah menerbitkan bukumu yang pertama? Setelah perjalanan yang panjang bukan?

“Sebetulnya Penjaskes bukan yang pertama. Kalau diterbitkan secara serius, ya yang pertama. Sebelumnya aku pernah bikin juga, ada dua kumpulan puisi, tapi model fotokopian dan sebarannya terbatas kepada kawan-kawan kampus waktu itu.”

“Kalau rasanya punya buku, tentu senang ya. Apalagi kalau kawan-kawan senang dengan buku itu. Gimana ya, hatiku seperti diguyur air wudhu gitu.”

“Apa hal baru di dalam bukumu yang kedua nanti, Ben?”

“Penjaskes tentu punya banyak lubang yang harus ditambal, banyak kelemahan. Aku coba mulai dari situ. Ada hal baru atau tidak, aku tidak tahu. Puisi-puisi terbaruku juga belum banyak. Sebetulnya, aku tak terlalu memusingkan apakah nanti kumpulan puisi selanjutnya menawarkan sesuatu yang baru atau tidak. Aku hanya perlu membuat puisi sekhusyuk-khusyuknya, sesaleh-salehnya. Mudah-mudahan lebih oke dari buku sebelumnya. Kalau ternyata nggak oke, tentu aku tak akan memaafkan diriku sendiri dan berharap lebih baik terlahir sebagai sejumput kwaci saja.”

“Hooo, ngono tho”

“Eh, aku kepikiran, Ben”

“Opo, Des?”

“Coba, apa hubungannya puisi dengan dirimu, Ben?” Tiba-tiba saja aku bertanya iseng.

“Wah agak susah menjelaskannya”

“Hmmmm, mungkin ungkapan ini bisa sedikit menjelaskan.”

“Hidup adalah perang dan puisi adalah luka-lukanya.”

“Wah, aku mendengar sayatan”

“Lha iyo, Duta Air Mata e”

“Haha”

“Kalau menurutmu, puisi itu apa, ben?”

“Puisi ya”

“Dulu, kupikir puisi hanya kumpulan kata-kata, permainan bunyi dan diisi dengan maksud-maksud tertentu. Sudah itu dikasih judul, selesai. Tapi, sekarang kupikir tidak sesederhana itu. Dia rumit, seperti dunia di dalam dunia. Punya kehidupan dan takdirnya sendiri.”

“Lalu, alasanmu jadi tertarik lalu menekuni puisi, apa Ben?”

“Kukira puisi bukan soal hal baru atau sesuatu yang menantang “

“Bukan sesuatu yang membuat kita sekonyong-konyong ingin mencoba.”

“Ini soal penghayatan atas hidup dan kehidupan, dan saya kira semua orang punya penghayatan ini, tentu dengan porsinya masing-masing.”

“Kalau dikatakan seperti itu, berarti porsimu agak lumayan besar ya”

“Kamu menulis puisi sejak kapan?”

“Mulai sering dan serius sejak awal-awal kuliah. Maksudnya, ya bikin puisi terus dikomentari kawan lalu diejek lalu bikin lagi dikomentari lagi lalu diejek lagi. Begitu terus. Sebelumnya, ya cuma menulis potongan lirik-lirik lagu Iwan Fals di kertas binder dan kuberikan ke kawan-kawan. Itu lho pas jaman bertukar kertas binder lagi ngetrend. Lalu, mulai berani bikin puisi pas jaman SMP. Itupun kuubah sedikit dari lirik lagu Jendela Kelas Satu. Aku pakai buat nembak perempuan. Sampai sekarang, kalau dengar lagu itu aku ingat dirinya yang sekarang telah beranak pinak dan berbahagia sedangkan aku di sini ah sudahlah…”

“Gimana sih proses dirimu membuat puisi? apakah harus mabuk dulu? atau harus berlinang air mata dulu? pastinya banyak jalan, tapi mungkin boleh diceritakan salah satu yang menarik, bagaimana proses sampai terciptanya satu buah puisi?”

“Wah kalau harus mabuk dulu, enggak lah ya. Selain bikin mual dan pusing, mabuk itu juga buang-buang waktu. Aku tak suka. Beberapa, barangkali hampir semua, puisiku lahir begitu saja, tanpa proses yang aeng-aeng, semisal merenungi kolam ikan, menyendiri di bawah pohon, mengencani pekerja seks, atau hal kurang bermanfaat lain semacam itu.”

“Puisi-puisiku, ada yang lahir saat mengantre di kasir Indomaret. Ada juga yang lahir saat menumpang Gojek. Ada beberapa yang lahir saat nonton video youtube copet dipukuli warga atau kebut-kebutan bis Sumber Kencono. Macam-macam lah dan tak bisa diduga-duga.”

“Aku mengira, kepalaku adalah bak mandi.  Puisi akan lahir sendiri kalau bak itu sudah penuh. Luber. Kalau belum penuh ya tentu nggak bisa membuat puisi. Dipaksa seperti apa juga nggak akan bisa, wong belum penuh. Dan, aku tak gusar sama sekali kalau bak itu tak juga penuh dalam waktu yang lama. Aku hanya perlu menunggu. Menunggu saja. Pasti akan luber pada waktunya.”

“Lalu, menurutmu apa puisi mengubah hidupmu?”

“Entahlah. Ini sulit sekali dijawab.”

“Perubahan ekstrim seperti tiba-tiba kaya mendadak karena puisi atau dijebloskan ke penjara karena puisi, tentu tidak ada. Kalau ada, tentu saya akan jawab puisi benar-benar mengubah hidup saya! Tapi, hidup saya begini-begini saja dan puisi jadi satu dari sekian warna yang ada di kepala saya.”

“Kamu ada puisi-puisi baru?”

“Boleh aku membaca puisimu?”

“Ya, boleh. Silahkan”

Ia memberikan buku kecilnya. Aku membaca tiga buah puisi di halaman paling depan. Bus terus melaju, sang asisten supir bus berteriak-teriak di pintu paling depan, membuka jalan. Seorang pengendara motor terlihat kesal karena harus menepi ke pinggir jalan menghindari laju bus bak ratusan banteng yang berlari kalut.


TERUMBU KENANG

Aku ingin merawat terumbu kenang

untuk menjaga ekosistem ingatan.

Kubenamkan kepala di padang lamun,

menghayati diri sebagai pucuk-pucuk ganggang

 –dan kenangan semakin berayun.

Kurasakan hatiku sedang dikerikiti seekor ketam.

Ikan-ikan badut, serupa dirimu,

datang dari arus hangat masa silam

bersama bintang laut dan penyu-penyu.

Sejak perpisahan kita dua abad lalu, aku telah

menceburkan tubuh gawat ini ke tengah lautan.

Merawat terumbu kenang.

Menjaga ekosistem ingatan.


TAMAN MAKAN PAHLAWAN

Di taman makan pahlawan, suatu siang:

Kenanganku melejit pada rendang buatanmu

yang kaubikin dari rompi anti peluru.

Semakin kugigit, semakin syahdu air mataku menggenang.

Aku membangun sebuah jembatan

dari butir-butir iba dan kasih sayang

lalu menyeberang dari selera yang hancur berantakan

menuju kecup kening mesra sehabis makan.

Di taman makan pahlawan, suatu siang:

Kuziarahi mulutku dengan bubur tanpa ayam

mengenang gigi depan, taring dan geraham

yang gugur berhamburan di pertempuran meja makan.


SIOMAY

Ketika aku tidur, ada seorang tukang siomay

membuka pancinya di kepalaku. Aroma kentang

memenuhi gerobak malam, roda waktu semakin santai

melaju di atas ranjang yang lapang.

Tidurku semakin terbenam di wangi-wangi tenggiri.

Kembali kurasakan pelukanmu bagai lelehan saus kacang

merembes ke dalam tulang dadaku yang sering ngilu ini

dan keluar sebagai sebuah perasaan kehilangan.

Sebelum tidurku mengharu biru,

tukang siomay itu mangkal di sudut dengkurku.

Saat ia mengetuk kentungan bambu,

mimpiku bertak-tak-tuk-tuk memanggil namamu.


“Eh, menurutmu, Apa yang bisa dilakukan puisi untuk kehidupan?”

“Tergantung.”

“Tergantung?”

“Dia seperti bom molotov. Tak akan meledak bila tak dinyalakan dan tentu saja tak bisa meledak sendiri.”

“Intinya, puisi itu media. Melakukan sesuatu untuk kehidupan? Ya itu tetap tugas manusia-manusia yang ada di dalamnya, dengan menulis puisi misalnya.”

Facebook Comments