Perempuan itu berambut coklat, wajahnya diselimuti riasan wajah tebal, kontras dengan warna kulit putih pucat, dan tentu saja pantat mulusnya. Ada darah merah menyala keluar dari mulutnya. Darah itu terlihat artifisial, lebih terlihat seperti warna cat kuku.

Pada fragmen lain, seorang perempuan telanjang tergeletak di meja. Masih dengan riasan tebal dan warna tubuh yang pucat. Di sebelah kirinya seorang gadis bergaun biru bercorak putih, menatap kosong dengan leher yang terjerat tali.

Pornografi?

“Don’t make me laugh. This is art.”, kata Guy Bourdin seorang fotografer Perancis terkenal di era 70-an.

Pria jenius yang membuat foto-foto ini dikenal sebagai orang yang obsesif. Memang, tidak ada bukti yang menjelaskan jika ia memang memiliki kelainan perilaku seksual, namun perlakuannya pada model-modelnya memang agak aneh. Model-model perempuan dalam karya Bourdin seperti sengaja disiksa melakukan pose dengan sepatu dengan hak tinggi yang mematikan, korset ketat yang membuat sulit bernafas dan bergerak, membentuk suatu postur tubuh yang janggal.

Dalam karyanya, Bourdin cenderung menggunakan warna-warna bersaturasi ekstrim; merah darah yang menyala, hijau rumput yang menyengat atau kuning cerah yang merusak mata, kontras dengan kisah gelap yang ia tawarkan. Semuanya tampak sureal dan absurd—sensual dan provokatif. Karya-karyanya adalah suatu adegan yang terhenti, sebuah skenario ketidaksengajaan yang disusun rapi. Karya-karyanya tampak statis, mengingatkan kita pada awal munculnya fotografi yang masih menggunakan teknik long exposures yang sangat panjang–ketika arsitektur bangunan masih menjadi objek favorit para fotografer.

Bisa dibilang, ada jejak surealisme ala Man Ray dalam karya Bourdin. Ia memang pernah bekerja sebagai asisten Man Ray dan mengaku sangat mengagumi seniornya itu. Pelukis Rene Magrite dan Balthus juga banyaj memberi insipirasi dalam karya Bourdin. Sementara itu, film karya Luis Bunuel tampak mempengaruhi Bourdin dalam mengonstruksi fotonya seperti sebuah still film, sebuah potongan adegan yang absurd.

Foto-foto fashionnya yang sering menjadi langganan majalah Vogu membuat saya bertanya-tanya: Apa yang dijual Bourdin dalam karyanya? Bukannya biasanya foto fashion berisi perempuan cantik dengan senyum anggun dan mengenakan pakaian haute-couture yang gemerlap disinari lampu-lampu glamor?

Revolusi Fashion

Setelah melihat rentetan karyanya, saya berkesimpulan karya-karya Bourdin adalah revolusi dalam fotografi fashion. Pria ini menolak ‘tirani suatu produk dalam fotografi komersial yang konvensional dan menjadi fotografer pertama yang membuat sebuah narasi kompleks dalam fotografi fashion.  Dalam fotonya, fashion tak lagi menjadi fokus utama.

Imej dari narasi yang diuatnya memiliki eksistensi yang independen dan produk fashion hanya menjadi sekedar ada untuk melengkapi narasi tersebut. Ia telah membawa fotografi fashion ke tingkatan baru. Ia tidak pernah memedulikan kepentingan komersil, fashion hanyalah suatu jalan untuk membuat idenya terwujud.

Karya Bourdin sering dibandingkan dengan koleganya, Helmut Newton yang juga bekerja di Vogue. Keduanya memang gemar menampilkan tubuh perempuan-perempuan telanjang dan tersiksa. Namun berbeda dengan Helmut yang selalu menggunakan warna monokrom dan mengeksploitasi erotika sadomasokis, karya Bourdin memiliki suatu narasi tragis akan kisah yang telah atau akan terjadi—akan ada banyak pertanyaan tak terjawab yang muncul saat melihat foto-fotonya.

Kaki-Kaki Mulus Misterius

Pada tahun 1967-1981 Bourdin dikontrak ekslusif oleh perusahaan sepatu Charles Jourdan dan dalam kurun waktu itulah Bourdin melakukan banyak eksplorasi dengan foto-foto kaki. Dalam beberapa kesempatan Bourdin membuat semacam foto seri potongan kaki-kaki sebetis (menggunakan sepatu Charles Jourdan tentunya) yang berkelana dalam fragmen-fragmen janggal dan ajaib. Sepatu telah menjadi sebuah objek fetish di tangan Bourdin, baik sebagai sebuah benda berhasrat maupun sebagai fokus dari sebuah skenario.

Salah satu foto iklan yang paling diingat adalah sebuah foto pada tahun 1975, ketika Bourdin memotret sebuah adegan kecelakaan mobil dengan gambar garis polisi yang menandakan tubuh seorang korban perempuan yang terkapar dan sepasang sepatu pink Charles Jourdan dalam posisi mengenaskan. Foto ini sama sekali tidak tampak sebagai foto iklan fashion. Cahaya flash yang kuat membuatnya tampak seperti snapshot jurnalistik amatir. Namun di sinilah Bourdin bermain-main dengan nilai keindahan.

Dalam foto-fotonya ia mengritik makna keindahan yang baginya tidak selalu murni, ia mempertanyakan fashion yang hipokrit dan arogan. Dalam foto ini ia membunuh sekaligus mempromosikan sebuah imej sepatu. Hasilnya? Charles Jourdan mengontraknya selama 14 tahun.

Fotografi Fashion dan Seni Rupa

Pada tahun 60-an fotografi sudah diterima sebagai bagian dari seni rupa dan sejak itu keberadaannya mulai disejajarkan dengan seni lukis. Posisi fotografi sebagai sebuah medium tidak lagi dipertanyakan melainkan lebih penting lagi narasi apa yang mampu dimunculkan oleh fotografi. Salah satu contoh fotografer pada masa itu adalah Cindy Sherman yang memperkenalkan gaya naratif kepada fotografi.

Namun ternyata dalam tubuh fotografi itu sendiri, masih ada suatu hirarki yang belum “terselesaikan”. Karena fotografi dapat dilakukan banyak orang, baik profesional dan amatir, akhirnya batas antara seni dan bukan seni dalam fotografi menjadi sedikit lebih kompleks, daripada seni lukis yang lebih eksklusif, misalnya.

Demikian halnya dengan fotografi fashion. Secara umum, genre ini akan didefinisikan secara praktis sebagai sekedar medium untuk mempromosikan sebuah produk fashion. Fotografi fashion tidak bedanya dengan iklan komersil. Namun dalam dunia seni rupa kontemporer, elemen-elemen visual dalam dunia desain dan periklanan telah melebur dan mengaburkan batas dan bukan seni. Baik fashion dan seni rupa telah saling berapropriasi, baik fotografi dan seni rupa telah saling memberi inspirasi.

Dalam kasus Guy Bourdin, fotografi fashion yang dibuatnya telah melebihi fashion itu sendiri, objek fashion sekedar ada untuk mewujudkan obsesi Bourdin atas seni—atau obsesi atas pantat mulus model-modelnya. Foto-foto Bourdin tidak lagi bicara tentang fashion, namun jauh menuju substasinya: keindahan.


Brigitta Isabella

Menghabiskan sebagian besar aktivitasnya di KUNCI Cultural Studies Center, sebuah kolektif peneliti di Yogyakarta, yang berkecimpung dengan produksi dan pelbagai pengetahuan kritis melalui publikasi media, perjumpaan lintas disiplin, riset-aksi, intervensi artistik, dan pendidikan ugahari baik di dalam maupun antara ruang-ruang komunitas.

Tulisan ini merupakan bagian dari publikasi fur pada 24 Oktober 2011

Facebook Comments