“The stars shall fade away, the sun himself grow dim with age, and nature sink in years, but thou shalt flourish in immortal youth.”

Adalah kutipan dari esais dan penyair Joseph Addison yang terpampang di laman arsip Fur. Kutipan yang menjadi ruh Fur dalam satu dekade perjalanannya menjadi media alternatif bagi para pencipta karya seni.

Sesuai dengan  konsep immortality, atau keabadian, kami berhasrat Fur menjadi sesuatu yang mengada dan tanpa akhir.

Namun, perjalanan kami harus mengalami perhentian pada 2015 lalu. Pameran kartu pos dan perayaan kecil bersama teman-teman terbaik, menandai ke-jeda-an Fur.

Fur lahir dari kegelisahan Tampan Destawan, Kanya Stira dan Debra Raymond akan terbatasnya media yang bisa menjadi wadah dan pelampiasan dalam berkarya dalam ragam medium seni.

Terinspirasi dari film soal Diane Arbus, Fur menjadi titel zine yang pertama kali diterbitkan pada Febuari 2009.  Selaras, cerita soal Diane Arbus dan Sensasi Tentang Liyan menjadi tulisan utama di publikasi perdana tersebut.

Lagipula, dilihat dari etimologi, Fur berarti ‘bulu’. Secara filosofis, bulu ringan namun ia bisa fleksibel dan terbang kemana saja, sebebas konten dan format publikasi Fur sepanjang perjalanannya. Kami percaya, seni semestinya membebaskan.

Dalam setiap publikasi, Fur mengambil tema-tema yang melibatkan perasaan, seperti Memories, Sense and Sensibility, Lullaby, Lust, Silence, Passion, dan Space.

Dari masa ke masa, Fur berkembang menjadi zine seni yang memungkinkan orang-orang muda yang merasa perlu menunjukkan karyanya atau berbagi pemikiran, sudut pandang, corat-coret, ulasan, foto, atau bentuk seni lainnya, kepada orang lain.

Namun, bukan berarti dalam perjalanannya Fur tak mengalami pasang surut. Fur sempat mandeg sekitar setahun pada medio 2009 lantaran… entah kenapa, barangkali bosan. Memories menjadi publikasi yang menandai kebangkitan kami setelah mengalami jeda.

Obrolan tentang kebosanan, perjalanan dan jeda antara seorang pemuda dan bayangannya di kereta menandai perhentian Fur berikutnya pada Mei 2015. Namun seperti bayangan pemuda itu bilang, “Kebosanan adalah suatu impuls yang menandakan bahwa petualangamu belum harus diakhiri.”

Kejemuan dengan media yang menampilkan seniman yang itu-itu saja, menjadi alasan utama Fur untuk melangkah lagi setelah sela dua tahun. Fur lahir kembali dengan nama Fur Digital, yang menghadirkan proyek karya seni dan perbincangan dengan para seniman muda melalui multi-platform.

Kelahiran kembali Fur bagi kami sangat penting, karena kami percaya banyak seniman hebat yang berbakat di Indonesia, namun tidak memiliki kesempatan untuk menampilkan karyanya ke publik. Fur Digital hadir, dan melanjutkan perjalanan, untuk memperlihatkan ‘orang-orang yang tidak terlihat’ ini. Hingga perhentian selanjutnya.

Facebook Comments