Di atas adalah sebuah foto dari Indomie yang diambil dengan sebuah kamera ponsel, dipindahkan dengan teknologi nirkabel, diunggah ke internet, dan disajikan sebagai gambar pembuka tulisan ini.

Kenapa saya melakukannya? Karena saya bisa. Itu saja.

Terlepas dari kemampuan dan kemauan saya, apa yang saya lakukan di atas adalah hal yang menghabiskan sumber daya yang tak begitu banyak dan dapat memberikan ilustrasi tentang sebuah keseketikaan.

Akses yang gampang terhadap sumber daya seperti waktu, ruang, mie instan, dan kuota internet menunjukkan bahwa saya tak perlu mengambil gambar yang baik untuk menunjukkan apa yang ingin saya sampaikan. Ditambah lagi, aktivitas ini minim risiko dan melewati proses yang tidak terlalu rumit. Sehingga saat melakukannya, saya mendapatkan hasil dan gratifikasi yang seketika pula.

Walaupun hampir semua faktor yang saya sebutkan di atas adalah relatif – baik sumber daya, risiko, maupun proses, namun saya merasa jika saya memilih metode lain dalam memotret mungkin saya tidak akan mendapatkan gratifikasi yang sama.

Misalnya, saya memotret dengan kamera analog, sumber daya yang saya gunakan akan menjadi besar, prosesnya akan semakin panjang, dan risikonya pun semakin besar pula. Berbagai faktor (atau kesulitan) yang akan muncul sepatutnya akan membuat saya berpikir, apakah memang perlu menggunakan fotografi analog untuk memotret mie instan dan memberikan ilustrasi tentang kesetikaan?

Untuk menjawab itu, saya akan ingin menyampaikan suatu hipotesa yang didasarkan pada prinsip ekonomi. Jika seorang anak kos kelaparan dan ia hanya memiliki dua pilihan yaitu menyantap Indomie rasa ayam bawang atau pergi ke warteg dengan berjalan kaki, pilihan mana yang akan ia ambil?

Jika ia menyantap Indomie, laparnya akan hilang untuk beberapa jam tapi rasa yang tertinggal di lidahnya adalah rasa micin dan asin. Jika ia memilih ke warteg, laparnya akan hilang dalam waktu yang lebih lama tetapi mungkin makanannya tidak akan sesuai seleranya.

Dalam proses memilih ini, apabila si anak kost membuat pilihan dengan sudut pandang ekonomi untuk mengukur kedua pilihan dengan segala risiko yang dihadap, apakah ia akan memilih sesuatu yang minim risiko tetapi memberinya gratifikasi yang seketika seperti makan Indomie, atau melakukan sesuatu dengan risiko yang lebih tinggi tetapi memberinya perasaan kenyang yang bertahan sampai lebih lama?

‘Lautan foto-foto indah’

Sebelum kita meletakkan hipotesa tadi dalam perspektif fotografi, kita akan melihat ada dua cara untuk mendapatkan sebuah gratifikasi. Pertama, karena perkembangan teknologi dengan segala fitur instan membuat foto yang baik dan mendapat gratifikasi yang seketika menjadi semakin mudah.

Kedua, seseorang dapat membuat foto dengan metode kerja yang konvensional seperti dimulai dengan riset, dilakukan secara repetitif sampai dirasa membuat foto yang cukup baik dan indah, dan akhirnya dipublikasikan.

Kedua cara ini tentunya dengan mudah mendapat gratifikasi jika disebarkan melalui media sosial. Dampaknya, foto-foto instan yang baik ini menjadi semakin mudah ditiru dan imbasnya, muncul lautan ‘foto-foto indah’ yang sejenis, walaupun dibuat oleh fotografer yang berbeda-beda.

Kembali kepada hipotesa ekonomi tadi, seorang fotografer yang memilih metode fotografi dengan segala faktor – baik sumber daya, risiko, dan proses – yang paling minim, akan berharap paling tidak fotonya mendapatkan gratifikasi yang seketika pula.

Di sisi lain, jika seorang fotografer memilih metode memotret yang penuh dengan risiko, proses yang panjang, dan menggunakan sumber daya yang tidak sedikit, maka foto yang dihasilkan seharusnya jauh dari banalitas dan diharapkan memberikan gratifikasi yang bersifat lebih kekal daripada sekedar kesetikaan.

Untuk memberikan ilustrasi tentang hasil fotografi dari kedua pendekatan yang telah saya sebutkan sebelumnya, mari kita lihat kembali foto Indomie di atas. Jika diletakkan dalam sebuah spektrum, foto Indomie itu akan berada di ujung kiri. Pasalnya, walaupun ia memiliki pencahayaan yang baik, namun latar belakangnya kurang jelas dan terkesan asal. Terlebih lagi, itu adalah foto satu bungkus mie instan yang awam ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan kata lain, foto tersebut banal dan asal saja diambil. Pada pendekatan yang kedua, foto yang saya maksud seharusnya berada di spektrum kanan dan memiliki elemen yang berkebalikan dengan foto Indomie tersebut. Foto ini seharusnya dibuat dengan penuh pertimbangan, memiliki nilai yang dapat dirasakan, dan secara teknis sangat baik.

Namun, jika kita melihat kembali ke lautan imaji yang ada di lini masa media sosial kita, berapa banyak foto yang dihasilkan dari proses yang panjang, penuh risiko, dan meminta sumber daya yang banyak tetapi tetap berada pada spektrum yang sama dengan foto Indomie tadi?


Ridzki Noviansyah

Seorang pengacau dan penyambung. Beberapa orang bilang dia seorang penggoda yang kadang memiliki terlalu banyak pikiran di kepalanya. Dulu dia sering mabuk-mabukan tapi sekarang memilih tenggelam dalam ide-ide yang terkadang ia tuangkan atau lakukan.

Ridzki dapat dikontak melalui email melalui a.ridzki@gmail.com

Facebook Comments