Film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak pada dasarnya mengangkat cerita perempuan-perempuan Indonesia yang terjebak di bawah bayang-bayang misoginis.


Siang itu panas dan kering, angin bertiup cukup kencang di sebuah desa di pedalaman Sumba. Dalam keadaan bunting hampir 10 bulan, seorang perempuan yang mengenakan baju terusan bercorak warna kuning selutut dan cardigan berwana biru terang itu memanggil-manggil Marlina sambil berjalan terburu-buru. Ia menghentikan kakinya ketika melihat Marlina ternyata membawa penggalan kepala yang mulai membusuk. Ia hampir muntah.

Itulah pertemuan pertama Novi dan Marlina di film berjudul Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak, pada esok hari setelah Marlina membunuh lima orang perampok, yang salah satunya telah memperkosanya.

Secara fisik, Novi digambarkan sebagai perempuan yang tinggal di desa dengan dandanan polos tanpa make up. Ia juga memiliki kemampuan berbahasa daerah layaknya orang Indonesia Timur dengan dialog Sumba yang cukup kental.

Dengan segala kelebihan itu, saya sempat menduga, pemeran Novi adalah aktris lokal, asal Sumba.

Ternyata saya salah, Novi yang diperankan oleh Dea Panendra Larasati ini adalah seorang aktris pendatang baru kelahiran Bandung, 18 Januari 1991, yang mengawali karier sebagai finalis Indonesian Idol musim ke-6. Ia lebih dikenal dengan Dea Idol.

Ketika saya stalking instagramnya, saya terkejut, ternyata dia sangat berbeda saat mengenakan make up.

Totalitas Dea Idol dalam memerankan Novi patut saya sambut dengan tepuk tangan.

Tapi ini bukan hanya soal ia sukses menjadi perempuan Sumba yang unik dengan segala kesederhanaannya, peran yang didaulat oleh Sutradara Mouly Surya kepadanya sebagai perempuan hamil yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga adalah sebuah catatan tersendiri.

Mengapa saya lebih tertarik membahas Novi daripada Marlina? Karena sosok Marlina terlampau sureal bagi saya, kalau kata pengamat film Eric Sasono itu karena ada bau-bau film-film ber-genre Western, alias film koboi.

 

Marlina si Pembunuh Dalam Empat Babak (Cinesurya/ marlinathemurderer.com)

“Beberapa cirinya memang tampak jelas. Selain absennya penegakkan hukum, ciri naratif lainnya adalah: perampokan oleh gerombolan, perjalanan membalas dendam dan adanya semacam ‘duel pamungkas’ untuk mengakhiri masalah (sekaligus mengakhiri film)” kata Eric.

Marlina tampak sebagai agen ‘satay western’ di film ini.

Saya sebenarnya ingin melihat Marlina lebih sederhana, sebagai sosok janda yang mewakili persoalan janda di seluruh tanah air, yang tak mau menikah lagi lalu dituduh terlalu pilih-pilih. Kalaupun ia membunuh, tidak dengan gaya koboi.

Sementara itu, tokoh Novi terlalu nyata dan saya temukan dalam kehidupan sehari-hari.

Sekali lagi ini bukan soal kemampuan akting Marsha Timothy, akan tetapi soal karakter dan plot yang dipilih sutradara. Saya lebih merasa dekat dengan Novi, daripada Marlina.

Hamil di bawah bayang-bayang masyarakat yang misoginis

Marlina si Pembunuh Dalam Empat Babak

Marlina si Pembunuh Dalam Empat Babak (Cinesurya/ marlinathemurderer.com)

Diakui atau tidak, perempuan masih dipandang menjadi obyek oleh masyarakat. Mulai dari ia lahir, menjadi remaja, memiliki pasangan, menikah, hamil, cerai, bahkan ketika ia berstatus lajang. Ini bahasan yang selalu kita ulang dan masih berlangsung lebih dari satu abad.

Ketika perempuan lahir, ia harus disunat, dengan alasan untuk mengendalikan hasrat seksualnya. Ketika ia remaja ia harus ‘dipingit’, agar tidak kehilangan keperawanannya. Ketika ia memiliki pasangan, maka harus segera menikah agar tidak menjadi fitnah. Ketika sudah menikah, ia harus segera hamil, kalau tidak, maka dianggap perempuan yang kurang sempurna. Ketika ia jomblo atau tidak menikah, maka akan diolok perawan tua. Bertubi-tubi cobaan jadi perempuan ya.

Begitu juga dengan Novi, ia hamil dan sudah hampir 10 bulan, tapi si jabang bayi tak kunjung keluar. Ia sempat berselisih dengan suaminya. Novi juga lelah selalu ditanya kapan melahirkan, plus lelah juga secara fisik harus mondar-mandir dengan perut bunting.

Apa yang dialami Novi mengingatkan kepada teman-teman saya semasa SD. Ketika mereka menikah dan hamil, beberapa diantaranya juga mengalami hal yang sama. Selain mendapat ceramah dari berbagai orang tua, teman saya juga mengalami kekerasan. (Jangan dibayangkan pernikahan itu selalu indah, wahai…)

Persis seperti Novi, ia ditendang, ditampar, dan dituduh selingkuh. Yang lainnya dipaksa melakukan hubungan seksual saat hamil.

Ketika itu, saya tidak punya cukup daya dan pengetahuan untuk menolongnya. Saya hanya menghela napas, tersengal-sengal saat mendengar cerita itu. Panik dan marah, walaupun tak sepanik Marlina setelah Ia menebas kepala si perampok yang memperkosanya, ditambah saya tak bisa berbuat apa-apa.

Saya tidak tahu bagaimana kondisi perempuan di Sumba, tapi di Jawa dan Madura, saya menemukan kasus yang sama.

Mungkin saja perempuan di Sumba juga mengalami nasib yang tak jauh beda, sebab di Sumba misal ada sistim adat bernama Belis. Belis diumpakan sebagai mahar. Menurut sebuah penelitian, Belis justru menempatkan perempuan tidak ubahnya hanya sebagai komoditas dagang antara mempelai lelaki dan keluarga si perempuan. Suami yang ‘menebus’ mempelai perempuan dengan sistim adat Belis merasa telah membayar lunas istrinya. Akibatnya suami sering bertindak semena-mena terhadap istri, termasuk juga melakukan kekerasan, tak terkecuali saat saat mereka hamil.

Yang paling naas menimpa istri korban kekerasan dalam rumah tangga adalah ketika ia mengadukan masalah ini kepada keluarga, maka ia harus mengalah karena dianggap kejadian itu sebagai aib keluarga. Perempuan dihadapkan pada doktrin turun-temurun dari keluarganya, kekerasan adalah aib, semua bisa diselesaikan dengan kekeluargaaan, caranya dengan bersabar dan mengalah. Klasik.

Karena itu sangat sulit menghitung angka pasti kekerasan dalam rumah tangga.

Kabar buruknya adalah, dari data kekerasan terhadap perempuan, kekerasan dalam rumah tangga menempati posisi pertama. Dalam laporan BBC, Komnas Perempuan Indonesia mengungkapkan terdapat 259.150 kasus kekerasan atas perempuan sepanjang tahun 2016, yang dihimpun dari data di Pengadilan Agama dan yang ditangani lembaga mitra pengadaan layanan di Indonesia.

Komnas Perempuan membaginya menjadi kekerasan di ranah personal, ranah komunitas dan ranah negara. Di ranah personal/rumah tangga, kekerasan yang tertinggi yaitu kekerasan terhadap istri 5.784 kasus, dan kekerasan dalam pacaran atau KDP mencapai 2.171 kasus, kasus kekerasan terhadap anak perempuan 1.799 kasus, yang lainnya adalah kekerasan yang dilakukan mantan suami, mantan pacar serta terhadap pekerja rumah tangga.

Oh well, itu baru data yang berhasil dihimpun di pengadilan agama, bukan data yang real di lapangan. Tentu saja, ini hanya sebuah gunung es, kasus yang sebenarnya di lapangan pastinya lebih banyak.

Si pencuri ‘frame’ yang pernah ditolak karena dianggap kurang ‘cantik’

Marlina si Pembunuh Dalam Empat Babak (Cinesurya/ marlinathemurderer.com)

Penokohan Novi dan kedekataan masalah yang dihadapinya dengan penonton seperti saya inilah yang membuat saya setuju ketika teman yang juga sudah menonton mengatakan bahwa ia telah mencuri ‘frame’ film yang dibintangi Marsha Timothy ini.

Saya sempat membayangkan Dea Idol bertukar peran dengan Marsha Timothy. Bayangan yang nakal ya. Apa salahnya?

Di balik aktingnya yang total itu, sosok Dea ternyata pernah mengalami perlakuan buruk saat ikut casting menembus kancah perfilman tanah air.

Dea pernah dianggap kurang cantik. Ia mengakuinya dalam sebuah wawancara uncensored :

“Lo tuh nggak cantik, De.” Gue pernah digituin.

Serius? Sama siapa? Anjir jahat banget.

Adalah.

“Lo nggak good looking enough untuk main di film gue.” Oh yaudah. Lo nyarinya orang yang good looking tapi lo nggak nyari orang yang beneran bisa akting.

Hmmm kalau ini benar terjadi maka sayang sekali bagi sutradara yang membuang kesempatan memakai Dea sebagai pemeran utama, karena menurut saya sebagai penonton, justru Dea-lah yang mampu menunjukkan penampilan totalnya.

Well, anyway… namanya juga industri.

Akhirnya, saya sampai pada kesimpulan bahwa film Marlina ini bukan film dengan plot kebanyakan buat orang Indonesia, lain daripada yang lain, meski ada rasa satay western-ya juga.

Tapi please menontonlah bukan karena latarnya di Sumba, atau karena Marsha Timothy itu ‘cantik’. Tapi menontonlah dan saksikan bahwa film ini pada dasarnya mengangkat cerita perempuan-perempuan Indonesia timur yang terlalu real dalam kehidupan kita sehari-hari.

Janda yang selalu diejek ‘jangan pilih-pilih kalau ada yang mau’ (akhirnya ia diperkosa) dan istri yang hamil yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga karena dituduh selingkuh. Keduanya di bawah bayang-bayang masyarakat yang misoginis.

Bonus yang membuat film ini punya nilai lebih lainnya, yakni sutradara tidak ragu untuk all out menyajikan adegan yang ‘kelihatannya sepele’. Adegan ini mungkin tidak pernah saya temukan di film Indonesia lainnya. Yakni kedua tokoh perempuan itu ‘pipis’ di Padang Savana, I felt it was so real.

  • Marlina si Pembunuh Dalam Empat Babak
  • Marlina si Pembunuh Dalam Empat Babak
  • Marlina si Pembunuh Dalam Empat Babak
  • Marlina si Pembunuh Dalam Empat Babak
  • Marlina si Pembunuh Dalam Empat Babak
  • Marlina si Pembunuh Dalam Empat Babak

Febriana Firdaus

Jurnalis lepas yang punya nyali meliput beberapa kasus pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia, mendapatkan Penghargaan Oktovianus Pogau untuk Keberanian dalam Jurnalisme dari Yayasan Pantau

Tulisan ini sebelumnya dipublikasikan di sini

Facebook Comments