Seringkali, pantai menjadi area pengembak-biakan ingatan bagi seseorang. Meluapkan memori, gagasan, pun ide yang terkungkung di pikiran.Setidaknya itu yang terefleksikan dalam The Beaches of Agnès, film dokumenter autobiografi Agnès Varda. Ia sendiri yang menyutradari film dengan prolog film instalasi pada usia delapan puluh tahun, sebagai memoir atas perjalanan hidupnya.

Tunggu dulu, sudahkah saya memperkenalkan dia? Di antara deretan nama laki-laki tenar yang memenuhi daftar sutradara kawakan kaliber internasional, Varda hadir di tengahnya dan merepresentasikan intelektualitas kaum perempuan di dunia perfilman.

“I’m not interested in seeing a film just made by a woman. Not unless she is looking for new images.”

Sepenggal pernyataan tersebut memperlihatkan bagaimana ia memaknai film melalui sudut pandang perempuan. Secara implisit, Varda mengkritisi film besutan sutradara perempuan, juga film bertema perempuan yang selama ini meringkuk nyaman dalam pakem ‘male gaze’.

Dalam tema male gaze, perempuan dianggap sebatas objek dalam kisah di mana perhatian khalayak diposisikan sebagai tatapan pria. Atas dasar itulah, ia berusaha membangun persepsi baru atas perempuan melalui karya-karyanya yang sarat akan pengungkapan realitas dengan bubuhan satir-satir sederhana, erotisme yang jauh dari kesan banal, juga keberanian menggebrak ketabuan sosial.

La Pointe Courte, film perdana yang ia sutradari pada 1955 ketika usianya baru menginjak 25 tahun. Dengan setting di pesisir Perancis, Sete, dimana ia menghabiskan masa kecilnya, Varda menarasikan kehidupan pasangan muda dari desa nelayan dengan teknik pengambilan gambar yang tidak biasa pada masanya.

Biaya produksi yang rendah, hanya sekitar $ 14,000, membuat kru dan para pemain bekerja secara sukarela dalam proyek ini. Termasuk sineas legenda, Alain Resnais, yang bersedia menjadi editor tanpa bayaran. Segala kelebihan sekaligus keterbatasan dalam pembuatannya justru membuat Varda bebas berkreasi, sebagaimana konsep ‘auteur theory’ yang dianut para penggerak Nouvelle Vague (New Wave). La Pointe Courte merupakan salah satu film yang ditahbiskan sebagai avant-garde, membuat Varda sang sutradara dijuluki “The Grandmother of The New Age”, sejajar dengan Jean-Luc Godard dan kawan-kawan.

Masih polos dan terlalu berkutat di area sinematografi mencerminkan sisi lain dari La Pointe Courte. Lini masa bergerak maju, membawa saya menyelami karya Varda selanjutnya, Cléo de 5 à 7 (1962).  Isu feminitas tergambarkan dengan sangat mencolok. Bercerita tentang penyanyi muda di tengah ketakukan akan kematian lantaran didiagnosis mengidap kanker, dan menemukan kebahagiaan semu dari pemujaan atas kecantikan.

Dua jam yang dilalui Cleo menjelang kepastian hasil diagnosis penuh dengan pencarian arti diri. Di salah satu adegan, terlihat Varda menyindir konsep kecantikan dan fesyen yang selama ini berlaku sebagai alat sosial untuk mendangkalkan makna esensial atas perempuan di tengah peranannya. Perempuan cantik modis terlihat bak boneka berjalan. Hidup terkungkung dalam pencitraan, sebatas menjalankan peran yang diinginkan orang lain atas dirinya. Pada akhirnya, kebahagiaan seseorang tidak terletak pada hal material.

Bicara soal kebahagiaan, mari kita bahas Le Bonheur. Film yang dibuat pada 1965 ini menyentil isu perselingkuhan yang terjadi dalam suatu relasi formal. Seorang laki-laki dengan mudahnya mengatakan mencintai dua perempuan sekaligus dan para perempuan menerimanya, mau tak mau. Sekilas, akhir cerita yang ditampilkan Varda tampak mengamini konsep dominasi laki-laki atas perempuan. Namun, saya justru melihatnya sebagai satir yang sengaja disuguhkan.

Jika khalayak jeli, Le Bonheur turut menyuarakan korelasi antara perempuan dengan dikotomi ruang. Varda menunjukkan perspektif umum tentang perempuan yang berkutat di ruang privat sebagai figur yang lemah lembut, keibuan, serta pasif. Sedangkan perempuan yang menunjukkan eksistensinya di ruang publik dicirikan bersifat aktif, persuasif, sensual, dan liar.

Semakin ke depan, film-film Agnès Varda semakin berani menyuarakan feminisme. L’Une Chante, L’Autre Pas (1977), karyanya yang paling vulgar menyuarakan mosi aborsi. Pada masa pembuatan film ini, Varda merupakan satu dari 343 perempuan di Perancis yang menandatangani petisi untuk melegalkan aborsi. Dalam sudut pandang sebagian penganut feminisme, aborsi legal adalah perwujudan mutlak hak perempuan atas tubuhnya sendiri.

Karya Varda yang membabat habis stereotip bentuk ideal yang dibebankan pada perempuan adalah Sans Toit ni Loi (1985), atau lebih dikenal dengan Vagabond. Film bergaya dokumenter semu menggunakan alur mundur tentang perempuan yang menghabiskan hidupnya di jalan, tanpa atap yang menjadi peneduh maupun aturan yang membatasi. Narasi film diambil dari multi-perspektif subjek-subjek yang bertemu Mona, tokoh utama, beberapa saat sebelum kematiannya.

Varda berhasil membangun karakter perempuan kuat pada sosok Mona, hingga membungkam karakter para tokoh laki-laki yang ada di film itu. Idealisme yang menolak dikebiri oleh batasan, kebebasan sebagai harga mati, ditunjang dengan ketahanan fisiknya menebas kondisi alam yang berubah-ubah. Mona digambarkan keras kepala serta pembangkang. Membuat siapapun yang bertemu dengannya kewalahan tetapi mengagumi ketangguhannya di saat bersamaan.

Terlihat jelas, Varda mengecundangi fetisisme sebagaimana kerap tersaji dalam film yang memanjakan mata laki-laki. Keengganan Mona untuk mandi dan berganti baju, membuat penampilannya terlihat dekil. Tidak ada satu bagian tubuh yang pantas dilucuti oleh kamera secara erotis. Meski demikian, kritik akan kesengsaraan yang diemban oleh perempuan tetap saja diunggah.

Pada salah satu adegan ketika Mona diperkosa, Varda membukakan mata khalayak tentang realitas yang terjadi. Sampai sekarang, jalanan dianggap sebagai simbol ruang publik yang tidak ramah bagi perempuan, Pelecehan seksual masih menghantui perempuan tiap kali berada di ruang public. Ini salah satu bukti bahwa hak atas tubuhnya belum terlegitimasi dan terlindungi penuh, baik secara kultural maupun struktural.

Membahas satu demi satu karya Agnès Varda ibarat menyaksikan betapa usia bukan menjadi sebab seseorang berhenti berkarya atau membatasi keleluasaan cara berpikir. Varda adalah salah satu bukti hidup seniman lintas generasi yang telah bergelut di dunia sinematogradi selama hampir enam dekede.

Karya-karyanya menegaskan bahwa film bukan hanya sekedar media hiburan, tapi juga sebagai media penyalur sebuah gagasan. Menarik garis lebih intim dalam kerangka feminisme, mosi-mosi yang diusung Varda selayaknya banding yang diajukan untuk mewakili kaum perempuan di mana mereka sudah terlampau sering dijadikan komoditas maupun objek oleh sorot kamera.

“I thought, I have to use cinema as a language.”

 


Amnesti Marta

Buruh ketik masa kini, yang sibuk mencari sambal terasi mentah di daftar menu penyetan ibukota. Langganan Netflix premium, tapi fakir wifi. Sedikit percaya magis, sering alogis.

Tulisan ini merupakan bagian dari publikasi fur pada 7 Oktober 2012

Facebook Comments